Setiap tahun, kita memperingati satu peristiwa luar biasa dalam sejarah Islam: Isra Miraj. Seringkali, kita hanya mengenalinya sebagai “perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke langit”.
Namun, jika didalami, kisah ini jauh lebih dari sekadar perjalanan fisik. Ia adalah sebuah revolusi spiritual, titik balik keyakinan, dan sumber dari salah satu ibadah utama umat Islam: sholat lima waktu.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, memahami Isra Miraj bukan sekadar ritual tahunan, tapi menemukan kembali kompas spiritual kita. Mari kita telusuri lebih dalam, dengan gaya yang santai namun penuh makna.
Apa Itu Isra dan Miraj? Memisahkan Dua Peristiwa Agung
Pertama, kita perlu memahaminya sebagai dua tahap perjalanan.
Isra adalah perjalanan horizontal Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis. Bayangkan, di suatu malam, dengan kendaraan bernama Buraq, Rasulullah menempuh jarak ribuan kilometer pada zaman itu.
Ini adalah isyarat tentang hubungan erat antara tiga kota suci: Mekkah, Madinah (yang kelak menjadi tempat hijrah), dan Yerusalem. Masjidil Aqsa bukan tujuan akhir, melainkan titik keberangkatan menuju tahap berikutnya yang lebih dahsyat.
Miraj adalah perjalanan vertikal. Dari Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW dibawa naik melintasi lapisan-lapisan langit (samaawaat). Di setiap langit, beliau bertemu dengan para nabi sebelumnya, seperti Nabi Adam, Nabi Isa, Nabi Musa, dan lainnya.
Ini adalah simbol kesinambungan risalah langit. Semua ajaran para nabi bersumber dari satu sumber yang sama. Puncak dari Miraj ini adalah sidratul muntaha, sebuah tempat di mana beliau menerima perintah langsung dari Allah SWT tentang kewajiban sholat lima waktu.
Konteks Sejarah: Sebuah "Vitamin" di Tengah Kesedihan
Sebelum Isra Miraj, Nabi Muhammad SAW mengalami tahun yang sangat berat, dikenal sebagai ‘Am al-Huzn (Tahun Kesedihan). Beliau kehilangan dua pilar pendukung terbesar: sang paman yang melindunginya, Abu Thalib, dan istri tercinta, Khadijah RA.
Tekanan dan cacian dari kaum Quraisy juga semakin menjadi. Dalam keadaan duka dan tantangan yang begitu besar, Allah SWT mengangkat beliau dalam sebuah perjalanan agung ini.
Bayangkan ini seperti sebuah “retret spiritual” tingkat tinggi yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang paling dicintai.
Sebuah pengingat bahwa setelah kesulitan, pasti ada kemudahan. Setelah ujian yang berat, hadiahnya adalah perjumpaan dengan Yang Maha Kuasa dan sebuah hadiah abadi untuk umatnya: sholat.
Hadiah Terbesar: Sholat Lima Waktu, Percakapan Rutin dengan Sang Pencipta
Awalnya, Allah memerintahkan 50 waktu sholat dalam sehari. Atas saran Nabi Musa AS yang mengingatkan kekuatan umat Nabi Muhammad Rasulullah SAW bolak-balik memohon keringanan hingga akhirnya menjadi 5 waktu sholat yang kita kenal sekarang.
Ini bukan sekadar pengurangan jumlah, tetapi pelajaran tentang kemurahan Allah dan pentingnya syafa’at (perantaraan) serta keberanian untuk bermunajat.
Lima waktu sholat itu adalah representasi dari 50 waktu, dimana satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali. Setiap kali kita sholat Subuh, Zuhur, Asar, Maghrib, dan Isya, ingatlah bahwa itu adalah buah dari perjuangan dan cinta Nabi Muhammad SAW kepada kita.
Sholat dalam perspektif Isra Miraj adalah mi’raj-nya orang beriman. Setiap hari, kita diberi kesempatan untuk “naik” dan menghadap Allah, meninggalkan sejenak dunia, mengokohkan komitmen, dan memperbarui energi spiritual.
Hikmah dan Relevansi Isra Miraj di Zaman Now
Apa saja pelajaran praktis yang bisa kita petik?
- Kekuatan Spiritual Adalah Pondasi. Sebelum menghadapi tantangan besar (hijrah dan pembangunan masyarakat Islam di Madinah), Nabi diperkuat secara ruhani. Ini mengajarkan kita bahwa sebelum bertindak di dunia, kita perlu membenahi hubungan dengan Allah SWT.
- Sholat Adalah Solusi, Bukan Beban. Seringkali kita menganggap sholat sebagai kewajiban yang memberatkan. Perspektif Isra Miraj mengajarkan bahwa sholat adalah hadiah, penghubung langsung, dan sumber kekuatan. Ia adalah pengingat tujuan hidup kita yang sebenarnya.
- Pentingnya Komunitas dan Persatuan. Pertemuan dengan para nabi di langit menegaskan ukhuwah (persaudaraan) antar para pembawa risalah. Dalam konteks sekarang, ini mengajarkan toleransi dan menghargai perbedaan, sambil tetap berpegang pada prinsip keyakinan.
- Ketabahan dalam Ujian. Kisah Isra Miraj adalah bukti bahwa Allah tidak pernah tidur. Di puncak kesedihan, datanglah pertolongan dengan cara yang tak terduga. Ini menjadi inspirasi untuk selalu optimis dan sabar.
- Menjaga Komitmen dan Konsistensi (Sholat). Perintah sholat diterima di puncak perjalanan spiritual tertinggi. Ini menandakan bahwa menjaga sholat adalah penjaga dari segala bentuk kemerosotan moral.
Refleksi Akhir: Dari Peringatan Menuju Pengamalan
Memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW seharusnya tidak berhenti pada ceramah, pawai, atau kegiatan seremonial semata. Esensinya adalah internalisasi nilai-nilai tersebut.
- Evaluasi sholat kita. Sudahkah kita menunaikannya dengan khusyuk dan tepat waktu, atau masih sering diabaikan?
- Tingkatkan kualitas spiritual. Luangkan waktu untuk tadabbur alam, membaca Al-Qur’an, atau merenungi kebesaran Allah SWT.
- Jadilah agen perdamaian. Seperti Nabi yang membawa pesan rahmat bagi seluruh alam, kita pun bisa menyebarkan kebaikan di lingkungan sekitar.
Isra Miraj adalah kisah tentang harapan, cinta, dan penguatan. Ia mengajak kita untuk sesekali “melakukan perjalanan malam” kita sendiri mengasingkan diri sejenak dari kebisingan dunia, merenung, dan kembali dengan semangat serta komitmen yang diperbarui.
Selamat memperingati Isra Miraj, mari kita jadikan momen ini sebagai titik tolak untuk menjadi pribadi yang lebih dekat dengan Sang Pencipta melalui sholat lima waktu yang kita jaga bersama.
Semoga perjalanan agung Nabi Muhammad SAW ini terus menginspirasi perjalanan spiritual kita setiap hari.
